Untuk kamu yang kelak menjadi jodohku,
Setiap hari aku selalu berdoa kepada sang Ilahi, kelak suatu
saat kita bisa menyatu.
KITA. Ya, aku dan kamu.
Kamu yang tak tersentuh.
Kamu yang tak teraba.
Namamu yang sampai saat ini masih berada di langit ketujuh.
Namamu yang masih menjadi rahasia Ilahi.
Namun, aku selalu berandai-andai kita akan menjadi utuh.
Ketidaksempurnaan yang kita miliki akan menjadi kesempurnaan bagi kita berdua.
Aku selalu penasaran, bagaimanakah bentuk kamu? Bagaimanakah
rupamu?
Berjuta kali aku menebak siapakah kamu, tetapi kamu tetaplah
kamu. Kamu tetap menjadi rahasia-Nya.
Seandainya kamu tau, setiap hari aku berdoa agar kita segera
dipertemukan. Yah, kemudian aku sadar, pasti ada waktunya.
Tidak, tidak. Aku tidak ingin menikah saat ini. Aku hanya
penasaran siapakah kamu. Hanya itu.
Aku telah memimpikan berbagai peristiwa yang akan kita lalui
bersama.
Bersamamu, aku akan menghabiskan sisa waktuku. Karena
kamulah yang akan menjadi diary sejatiku. Kamulah tempatku berkeluh kesah.
Kamulah tempatku mencurahkan isi hati. Dan hanya kamulah tempatku mengadu
setelah menerjang segudang pekerjaan seharian.
Bersamamu, aku akan menghabiskan masa senjaku, duduk di
sebuah kursi tua, menikmati matahari di senja hari. Hanya bersamamu.
Mungkin mimpi dan anganku terlalu tinggi. Aku begitu
mengharapkan kamu yang begitu sempurna. Kan sudah kubilang, kesempurnaan itu
akan kita ciptakan berdua. Kesempurnaan akan kita ciptakan dari
ketidaksempurnaan kita.
Untuk saat ini, kubiarkan anganku melayang jauh. Jauh.. di
atas langit sana, di mana hanya Ilahi Rabbi yang Maha Tau.
Untuk saat ini, biarlah kita menjadi apa yang kita inginkan.
Biarlah kita jalani hidup kita saat ini.
Aku membiarkanmu pergi menggapai
anganmu. Aku melepasmu. Tetapi, berjanjilah padaku, bahwa kelak kamu akan
kembali. Ke sini, kepadaku dan memintaku untuk menjadi sahabat sejatimu.
Selamanya..