Pahit


Pahit adalah ketika kita harus merelakan seseorang untuk pergi.

Pahit adalah ketika kita menerima kenyataan bahwa orang yang kita harapkan ternyata adalah orang yang harus kita lupakan.

Pahit adalah ketika kita melihat harapan yang awalnya kecil, berubah menjadi besar, dan lama-lama hilang ditelan waktu.

Pahit adalah ketika kita berdoa setiap hari untuk orang yang kita kasihi, namun orang itu tiada pernah mendengarnya.

Pahit adalah ketika kita harus menelan butir-butir kekecewaan terhadap angan yang terlalu berlebih.

Pahit adalah ketika kita terpuruk seorang diri dan sulit melupakan masa lalu.

Pahit adalah ketika kita menatap masa depan dengan hati yang terluka.

Pahit adalah ketika kita minum puyer bintang tujuh ketika sakit gigi.
*sekian*

Surat untuk Jodohku Nanti..


Untuk kamu yang kelak menjadi jodohku,

Setiap hari aku selalu berdoa kepada sang Ilahi, kelak suatu saat kita bisa menyatu.

KITA. Ya, aku dan kamu.

Kamu yang tak tersentuh.

Kamu yang tak teraba.

Namamu yang sampai saat ini masih berada di langit ketujuh.

Namamu yang masih menjadi rahasia Ilahi.

Namun, aku selalu berandai-andai kita akan menjadi utuh. Ketidaksempurnaan yang kita miliki akan menjadi kesempurnaan bagi kita berdua.

Aku selalu penasaran, bagaimanakah bentuk kamu? Bagaimanakah rupamu?

Berjuta kali aku menebak siapakah kamu, tetapi kamu tetaplah kamu. Kamu tetap menjadi rahasia-Nya.

Seandainya kamu tau, setiap hari aku berdoa agar kita segera dipertemukan. Yah, kemudian aku sadar, pasti ada waktunya.

Tidak, tidak. Aku tidak ingin menikah saat ini. Aku hanya penasaran siapakah kamu. Hanya itu.
Aku telah memimpikan berbagai peristiwa yang akan kita lalui bersama.

Bersamamu, aku akan menghabiskan sisa waktuku. Karena kamulah yang akan menjadi diary sejatiku. Kamulah tempatku berkeluh kesah. Kamulah tempatku mencurahkan isi hati. Dan hanya kamulah tempatku mengadu setelah menerjang segudang pekerjaan seharian.

Bersamamu, aku akan menghabiskan masa senjaku, duduk di sebuah kursi tua, menikmati matahari di senja hari. Hanya bersamamu.

Mungkin mimpi dan anganku terlalu tinggi. Aku begitu mengharapkan kamu yang begitu sempurna. Kan sudah kubilang, kesempurnaan itu akan kita ciptakan berdua. Kesempurnaan akan kita ciptakan dari ketidaksempurnaan kita.

Untuk saat ini, kubiarkan anganku melayang jauh. Jauh.. di atas langit sana, di mana hanya Ilahi Rabbi yang Maha Tau.

Untuk saat ini, biarlah kita menjadi apa yang kita inginkan. Biarlah kita jalani hidup kita saat ini.

Aku membiarkanmu pergi menggapai anganmu. Aku melepasmu. Tetapi, berjanjilah padaku, bahwa kelak kamu akan kembali. Ke sini, kepadaku dan memintaku untuk menjadi sahabat sejatimu. Selamanya..