Seperti yang disebutkan Fethullah Gullen, ulama asal Turki dalam salah satu bukunya:
Waktu saya sedang jatuh cinta dengan seseorang juga rasanya begitu. Susah sekali rasanya mengungkapkan apa yang saya rasakan untuk seseorang dengan kata-kata. Mungkin bisa, tapi butuh beribu-ribu kata untuk mendeskripsikannya.
Jatuh cinta membuat seseorang berbahagia karenanya. Bahagia ketika bertemu dengan orang yang dia suka. Bahagia mendapat sebuah senyuman dari orang yang disukai. Berteman di jejaring sosial kemudian saling bertegur sapa dan kemudian sebuah harapan muncul.
Harapan untuk bisa berdekatan dengan orang yang disukai. Harapan untuk bisa menjalani sebuah hubungan yang menyenangkan yang dipenuhi dengan limpahan kata cinta dan sayang.
Namun, ketika perasaan yang dirasakan sulit untuk terungkapkan dan hanya menjadi sebuah rasa yang tersimpan di dalam hati, apakah harapan itu akan terwujud? Ketika perasaan tak tersampaikan, perasaan itu akan menjadi sebuah mimpi belaka. Mimpi yang semu.
Dan tiba pada saatnya ketika orang yang disukai itu ternyata telah memilih orang lain, perasaan sakit pasti tidak dapat terbendung lagi. Rasa bersalah, merutuki diri sendiri, mencaci maki nasib, itu hal yang pasti dilakukan oleh orang yang tidak mampu mengungkapkan rasa yang ia miliki untuk orang yang disukainya.
Ada masanya, ketika kita harus melupakannya. Melupakan semua perasaan dan mimpi serta angan-angan kita untuknya. Kita mulai dengan hati yang baru. Menapaki jalan yang terhampar di depan kita dan mencoba untuk tidak menengok ke belakang.
Sebuah cinta yang baru kemudian menghampiri. Cinta yang datang dari orang yang berbeda dengan cara yang berbeda. Cinta yang datang dari orang yang terkadang tidak kita duga.
Dia yang lama kita suka, mungkin perlahan akan kita lupakan seiring dengan berjalannya waktu dan cinta lain yang terus menerus datang menghampiri hidup kita.
Cinta adalah bagaimana cara kita menyikapi setiap perasaan serta emosi jiwa yang tertanam dalam batin kita. Cinta adalah sebuah cara untuk belajar dan bertahan menghadapi persoalan hidup ini.
Cinta,
Aica
Tidak ada komentar:
Posting Komentar