Drugs, Goes To The Hell, Please!

Narkoba. Barang haram ini sudah berkali-kali mengusik kehidupan keluarga besar saya. Sudah terhitung tiga kali sanak saudara saya berkaitan dengan benda terkutuk ini.

Dimulai dari adik ayah saya, Alm. Asgaf. Ya, dia sudah lama meninggal dunia akibat narkoba. Lebih tepatnya, dia terkena virus HIV AIDS karena pemakaian jarum suntik secara bergantian. Sebelumnya, dia harus ditahan di hotel prodeo kurang lebih satu tahun. Dia terbukti menggunakan shabu-shabu.

Sampai pada akhirnya, dia terkena virus mematikan itu. Seluruh keluarga pun memusatkan perhatian padanya. Dia sempat bertahan hidup selama empat tahun. Itu pun dia juga harus keluar masuk rumah sakit untuk waktu yang lama. Dan ketika pada akhirnya, tubuhnya tidak dapat berjuang lagi untuk berjuang melawan penyakit yang menggerogoti tubuhnya, dia harus menyerah dengan keadaanya yang pada saat itu cukup mengenaskan.

Tubuhnya sangat kurus, fisiknya sudah sangat lemah, susah berbicara, mengingat orang lain susah, bahkan bernafas pun sulit dia lakukan. Semua orang berdoa untuknya pada malam itu, sampai keesokan hari Allah mengambilnya kembali. Semua keluarga bersedih atas kepulangannya.

Kejadian hampir sama juga terulang pada adik dari ibu saya. Saya biasa memanggilnya Cing Ngkah. Dia ini punya istri dan dua orang anak balita. Dia tertangkap saat memakai ganja di sebuah tempat bersama beberapa temannya.

Berbeda dengan Alm. Cing Asgaf, Cing Ngkah ini tidak mendapat perhatian dari kakak-kakaknya. Mungkin karena dia sudah berulang kali melakukan hal yang tidak benar. Dia sering berjudi, gadai-tebus motor, mabuk-mabukan, dsb. Sehingga hanya ibu dan ayah saya serta Cing Edi yang masih mau mengurusnya, itu pun karena kasihan dengan Engkong saya.

Istri yang ditinggalkan beserta dua orang anaknya pun harus hidup tanpa ayahnya selama sembilan bulan. Cing Ita, istrinya, menjadi teman dekat saya. Dia banyak bercerita tentang kesedihannya dan penderitaan yang dialaminya.

Cing Ita termasuk seorang istri yang tabah. Ketika suaminya sedang berada dalam penjara, dia harus berjuang menghidupi kedua anaknya dengan membuka warung yang modalnya dari Engkong saya. Dia juga mengumpulkan uang untuk dikirimkan ke Cing Engkah tiap minggunya.

Malangnya Cing Ita, ibunya harus dipanggil Allah begitu cepat. Ibu yang sangat menyanyanginya, harus pergi kembali ke haribaan Sang Ilahi. Begitu berat beban yang ditanggung Cing Ita. Suaminya yang seperti itu dan ibunya kini telah tiada, dengan dua anaknya yang masih balita, saya melihat ketegaran di wajahnya. Dia rela dan ikhlas menjalani semua ini.

Dan Kamis kemarin, Cing Engkah akhirnya bebas dari lembaga pemasyarakatan dan kembali pulang ke rumah. Semua orang mengingatkannya betapa malangnya nasib istrinya dan memintanya tidak mengulangi kejadian itu.

Dan pada saat tulisan ini ditulis, kejadian serupa terulang kembali. Sepupu saya, Y (21) juga tengah menghadapi perkara dengan pihak kepolisian karena diduga memiliki ganja. Orang tuanya panik. Semua orang sibuk.

Satu hal yang menjadi pertanyaan dalam benak saya, mengapa dia tidak belajar dari dua kejadian sebelumnya? Mengapa dia tidak melihat betapa pengaruh benda jahanam itu telah merusak kehidupan orang lain?

Saya sebagai manusia biasa, berharap agar orang-orang yang saya sayangi tidak lagi berdekatan dengan benda haram itu. Benda yang telah mengambil banyak kebahagiaan dari hidup orang-orang terdekat saya. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayahnya untuk kami semua. Tuntunlah kami agar selalu berada di jalanMu, Ya Rabb!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar